Edisi Kelima - 17 Februari 2009
17 Feb 2009 20:25:00
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Sabtu (14/2) kemarin, S.A.D. Indonesia mulai berlaga di Campeonato Quinta Division Uruguay. Sayangnya kami kalah 1-0 dari Miramar Misiones. Bertanding di Estadio Jose Damiani, tim sudah berupaya maksimal tapi itulah hasilnya.
Kami merasa sedikit kecewa. Apalagi, gol tercipta seperti pemberian Tuhan untuk lawan. Pemain bernomor punggung 5 mereka, Luis Espino, menggiring bola di sudut kiri dan berniat melakukan umpan silang ke strikernya. Mendadak, bola berbelok dan mengenai tiang gawang Tri Windu.
Usai pertandingan, pelatih Cesar Payovich Perez bilang, "Itu gol dari Tuhan." Tapi, beliau tetap merasa puas pada penampilan kami. Teman-teman sendiri merasa kecewa karena gagal menang, tapi kami sadar bola itu bulat dan penuh misteri.
S.A.D. Indonesia U-17
Pada pertandingan kemarin, saya berpasangan dengan pemain yang baru bergabung ke Uruguay, Rahman Lestaluhu. Kami memainkan formasi 4-4-2, saya berduet dengan Rahman di lini depan. Pada pertandingan ujicoba melawan River Plate sebelum dimulainya liga, kami dikalahkan River Plate 2-1. Rahman mencetak satu-satunya gol saat itu dan tim sempat bermain dengan formasi 4-3-1-2.
Saya tidak terlalu monoton dengan formasi yang selau berganti-ganti. Saya selalu menikmati bermain di manapun yang lebih banyak menyerang dan dekat dengan gawang karena hobi saya adalah menggetarkan jaring gawang dengan bola.
Kerjasama saya dengan Rahman sangat baik, terutama soal komunikasi. Apalagi, tipe kami sama yaitu striker pekerja. Kami memang gagal mencetak gol, tapi bukan karena saya baru atau lama dengan tandem di depan, lebih mungkin kurang terciptanya peluang. Pertandingan kemarin lebih banyak di lini tengah, karena sebenarnya kekuatan kami seimbang dengan lawan.
Masih banyak kekurangan dalam tim, untuk itu kami masih sangat butuh berlatih dalam segala hal. Tim akan kembali bertanding Sabtu (21/2) ini menghadapi Defensor Sporting.
Salam hormat,
Syamsir Alam
Waarschuwing!!!
Blog ini tidak diperuntukkan kepada:
1. Yang tidak/belum bisa membaca
2. Yang tidak suka sama isinya atau backgroundnya
3. Yang tidak memiliki nyali untuk membuka blog ini
Jika Anda ingin membaca blog ini, persiapkan mental Anda, serta harus kuat rohani dan jasmani.
Saturday, May 15, 2010
FROM URUGUAY WITH LOVE: Cerita Syamsir Alam - Pelatih Kami Luar Biasa!
Pada edisi keempat Cerita Syamsir Alam, striker timnas S.A.D. Indonesia U-17 itu membahas tentang pelatihnya asal Uruguay, Cesar Payovich Perez.
2 Feb 2009 16:28:33
Dear Pembaca GOAL.com Indonesia,
Alhamdulillah, tim sudah mendarat di Montevideo dengan selamat sepuluh hari lalu. Kami seperti datang atau kembali ke rumah sendiri. Tidak banyak kesulitan berarti. Mungkin karena kami sudah terbiasa sejak tahun lalu dan kami juga sudah tahu apa yang harus kami lakukan. Para pemain baru pun begitu. Mereka tidak terlalu bingung mungkin karena mereka dapat berbaur dengan anak lama.
Begitu datang, kami istirahat dulu selama dua hari. Maklum, untuk
memulihkan kondisi badan karena jet lag. Tujuh pemain baru yang ikut juga cepat beradaptasi dengan lingkungan setempat. Anak-anak pun langsung digembleng banyak porsi latihan fisik. Pekan ini kami konsentrasi ke latihan taktik, mungkin Sabtu depan kami mengikuti tes kebugaran fisik.
Ngomong-ngomong soal latihan, tentu pembaca sudah mengenal nama Cesar Payovich Perez kan? Dia pelatih tim sejak setahun lalu dan sudah seperti ayah kami sendiri. Dia juga bisa menjadi figur kakak atau teman bagi pemain. Dia orang yang sangat luar biasa menurut saya. Cesar biasanya menasihati saya agar selalu bisa mengendalikan emosi. Belakangan sudah mulai bicara tentang emosi, karena saya mulai menguranginya.
Cesar Payovich Perez & Syamsir Alam - S.A.D. Indonesia U-17
Kelebihan Cesar adalah pendekatan personal yang dilakukan ke setiap pemain. Cesar juga tipe pelatih yang rela melakukan apapun, sekalipun nyawanya, demi tim yang sedang dia pimpin. Kadang tak mudah bagi Cesar mendampingi tim ini. Tak jarang kami dicurangi wasit, mungkin karena dianggap tim asing jadi ada sentimen nasionalisme antara wasit dan tim lawan. Cesar bisa meminggirkan rasa nasionalismenya dan membela tim kalau mendapat perlakuan tidak adil.
Kalau saya lihat, Cesar seperti tidak punya kegiatan selain sepakbola. Saya lihat dia hanya berpikir tentang bagaimana tim yang dilatihnya bisa meraih sukses dan bermain bagus di lapangan. Karena itu saya menganggapnya luar biasa.
S.A.D. Indonesia U-17
Latihan dengan Cesar tidak harus di lapangan, kami bisa melakukannya di dalam ruangan atau bahkan di tempat makan sekalipun. Sama seperti pelatih lain, Cesar akan sangat marah jika melihat pemain tidak konsentrasi dan bermain-main dalam sesi latihan.
Tapi, para pemain umumnya menghormati Cesar. Saat pulang akhir tahun kemarin, misalnya, Cesar ikut ke Indonesia untuk berkeliling ke beberapa tempat demi mencari pemain-pemain baru yang bisa dikembangkan di Montevideo. Waktu itu saya dan teman-teman ingin menunjukkan kemampuan tim kepada masyarakat Indonesia. Mungkin bisa dilakukan sebelum Piala AFF, Desember kemarin. Tapi, Cesar hanya mengizinkannya jika kami melawan tim kelas satu Asia, seperti Jepang, Australia, atau Korea Selatan, bukan Singapura, Kamboja, atau Vietnam -- apalagi tim-tim lokal. Sayang, tidak ada agenda ujicoba. Paling tidak itu menggambarkan keseriusan Cesar dan juga kami, para pemain, tentang apa
yang sedang kami lakukan memasuki tahun kedua ini di Uruguay.
Sekian dulu kabar dari Montevideo. Begitu ada waktu, saya akan mengirim surat lagi buat pembaca GOAL.com Indonesia.
From Uruguay With Love,
- Syamsir Alam -
2 Feb 2009 16:28:33
Dear Pembaca GOAL.com Indonesia,
Alhamdulillah, tim sudah mendarat di Montevideo dengan selamat sepuluh hari lalu. Kami seperti datang atau kembali ke rumah sendiri. Tidak banyak kesulitan berarti. Mungkin karena kami sudah terbiasa sejak tahun lalu dan kami juga sudah tahu apa yang harus kami lakukan. Para pemain baru pun begitu. Mereka tidak terlalu bingung mungkin karena mereka dapat berbaur dengan anak lama.
Begitu datang, kami istirahat dulu selama dua hari. Maklum, untuk
memulihkan kondisi badan karena jet lag. Tujuh pemain baru yang ikut juga cepat beradaptasi dengan lingkungan setempat. Anak-anak pun langsung digembleng banyak porsi latihan fisik. Pekan ini kami konsentrasi ke latihan taktik, mungkin Sabtu depan kami mengikuti tes kebugaran fisik.
Ngomong-ngomong soal latihan, tentu pembaca sudah mengenal nama Cesar Payovich Perez kan? Dia pelatih tim sejak setahun lalu dan sudah seperti ayah kami sendiri. Dia juga bisa menjadi figur kakak atau teman bagi pemain. Dia orang yang sangat luar biasa menurut saya. Cesar biasanya menasihati saya agar selalu bisa mengendalikan emosi. Belakangan sudah mulai bicara tentang emosi, karena saya mulai menguranginya.
Cesar Payovich Perez & Syamsir Alam - S.A.D. Indonesia U-17
Kelebihan Cesar adalah pendekatan personal yang dilakukan ke setiap pemain. Cesar juga tipe pelatih yang rela melakukan apapun, sekalipun nyawanya, demi tim yang sedang dia pimpin. Kadang tak mudah bagi Cesar mendampingi tim ini. Tak jarang kami dicurangi wasit, mungkin karena dianggap tim asing jadi ada sentimen nasionalisme antara wasit dan tim lawan. Cesar bisa meminggirkan rasa nasionalismenya dan membela tim kalau mendapat perlakuan tidak adil.
Kalau saya lihat, Cesar seperti tidak punya kegiatan selain sepakbola. Saya lihat dia hanya berpikir tentang bagaimana tim yang dilatihnya bisa meraih sukses dan bermain bagus di lapangan. Karena itu saya menganggapnya luar biasa.
S.A.D. Indonesia U-17
Latihan dengan Cesar tidak harus di lapangan, kami bisa melakukannya di dalam ruangan atau bahkan di tempat makan sekalipun. Sama seperti pelatih lain, Cesar akan sangat marah jika melihat pemain tidak konsentrasi dan bermain-main dalam sesi latihan.
Tapi, para pemain umumnya menghormati Cesar. Saat pulang akhir tahun kemarin, misalnya, Cesar ikut ke Indonesia untuk berkeliling ke beberapa tempat demi mencari pemain-pemain baru yang bisa dikembangkan di Montevideo. Waktu itu saya dan teman-teman ingin menunjukkan kemampuan tim kepada masyarakat Indonesia. Mungkin bisa dilakukan sebelum Piala AFF, Desember kemarin. Tapi, Cesar hanya mengizinkannya jika kami melawan tim kelas satu Asia, seperti Jepang, Australia, atau Korea Selatan, bukan Singapura, Kamboja, atau Vietnam -- apalagi tim-tim lokal. Sayang, tidak ada agenda ujicoba. Paling tidak itu menggambarkan keseriusan Cesar dan juga kami, para pemain, tentang apa
yang sedang kami lakukan memasuki tahun kedua ini di Uruguay.
Sekian dulu kabar dari Montevideo. Begitu ada waktu, saya akan mengirim surat lagi buat pembaca GOAL.com Indonesia.
From Uruguay With Love,
- Syamsir Alam -
TARUNA INDONESIA: Cerita Syamsir Alam - Semoga Bisa Lebih Banyak Menang Di Uruguay
Edisi ketiga dari striker kelahiran 6 Juli 1992 ini ditulis sebelum skuad S.A.D. Indonesia U-17 bertolak ke Montevideo, Uruguay.
22 Jan 2009 16:54:49
Share
Buzz It
Syamsir Alam - S.A.D. U-17 Indonesia (GOAL.com Indonesia / M.Riso)
Sambungan edisi pertama dan kedua...
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Saat kalian membaca tulisan ini, saya bersama 24 rekan lain mungkin baru saja tiba di Montevideo, Uruguay. Kami akan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
Kami berangkat dari Jakarta, Selasa (20/1) petang pukul 18.30, untuk mengarungi perjalanan 24 jam. Kami akan transit di Kuala Lumpur sebelum transit di Cape Town. Dari kota Afrika Selatan itu, kami akan berangkat ke Buenos Aires sebelum akhirnya mendarat di Montevideo. Pelatih Cesar Payovich Perez sudah terlebih dahulu
berangkat dan menunggu tim di ibukota Uruguay itu.
Coba lihat foto kami berseragam serbabiru yang diambil sebelum
berangkat ini! Semuanya antusias, kan?!
Saya tidak banyak membawa barang dari Jakarta, koper saya kebanyakan berisi seragam tim. Bahkan saya tidak membawa makanan seperti rendang ke sana. Tapi, saya juga berangkat dengan banyak harapan. Mudah-mudahan tim lebih banyak menang, tampil lebih baik.
Mudah-mudahan pula saya lebih banyak mencetak gol sekaligus bisa menarik minat klub di sana. Siapa tahu bisa dilirik oleh scout dari salah satu klub Eropa.
Entah apa yang akan menanti tim di sana. Mungkin ada perubahan. Biasanya kami bermain dengan formasi 4-4-1-1. Saya di posisi penyerang lubang, di belakang penyerang tengah Alan Martha. Ada beberapa pemain yang bisa kami andalkan, seperti Martha sendiri, kapten tim Reffa Money -- pemain belakang yang tangguh, dan ada juga Yandi Sofyan -- adik striker Persib Bandung Zaenal Arif, mungkin pembaca sudah tahu semua. Tapi, yang pasti, begitu sampai Montevideo, tim masih harus berlatih keras untuk mencapai semua yang diinginkan.
Seluruh anggota tim sudah siap, anak-anak terlihat optimis karena kita punya misi penting tahun ini, yaitu mengikuti Pra Piala Asia U-19 di Indonesia. Insya Allah di waktu singkat ini kita dapat mempersiapkan diri secara maksimal.
Kondisi pemain sangat baik. Saya sering melakukan kontak dengan semuanya, terutama tujuh teman yang tercoret. Sekaligus saya kasih support ke mereka, bahwa tercoret dari tim bukanlah akhir dari segalanya.
Saya sangat semangat untuk menimba ilmu kembali di Uruguay, karena saya belum merasa apa-apa. Bekal dari rumah mungkin hanya doa dari orangtua. Menurut saya itu yang terpenting dari apapun.
Tim saya sangat luar biasa, anak-anak bisa saling mengisi kekurangan teman. Mudah-mudahan rakyat Indonesia percaya pada tim kami. Mudah-mudahan dengan kepercayaan itu kami bisa berikan yang terbaik.
Di antara komentar pembaca pada edisi sebelumnya, ada tanggapan dari yang namanya Romy Bareno - orang yang sangat dekat dengan saya, dia kakak sepupu saya. Mengenai emosi saya, itu sangat benar dan saya sedang belajar melawan diri sendiri karena itu yang tersusah dalam hidup menurut saya. Mudah-mudahan seiring umur yang bertambah, saya bisa lebih dewasa dan mengurangi emosi saya.
Selama di Uruguay, saya akan terus memberi kabar kepada pembaca GOAL.com Indonesia. Tapi harap sabar yah...karena saya akan sibuk berlatih.
Mohon doa semua pembaca untuk tim S.A.D. Indonesia, karena kami akan bertarung di dua kompetisi dalam waktu dekat ini.
Salam hangat,
Syamsir Alam
22 Jan 2009 16:54:49
Share
Buzz It
Syamsir Alam - S.A.D. U-17 Indonesia (GOAL.com Indonesia / M.Riso)
Sambungan edisi pertama dan kedua...
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Saat kalian membaca tulisan ini, saya bersama 24 rekan lain mungkin baru saja tiba di Montevideo, Uruguay. Kami akan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
Kami berangkat dari Jakarta, Selasa (20/1) petang pukul 18.30, untuk mengarungi perjalanan 24 jam. Kami akan transit di Kuala Lumpur sebelum transit di Cape Town. Dari kota Afrika Selatan itu, kami akan berangkat ke Buenos Aires sebelum akhirnya mendarat di Montevideo. Pelatih Cesar Payovich Perez sudah terlebih dahulu
berangkat dan menunggu tim di ibukota Uruguay itu.
Coba lihat foto kami berseragam serbabiru yang diambil sebelum
berangkat ini! Semuanya antusias, kan?!
Saya tidak banyak membawa barang dari Jakarta, koper saya kebanyakan berisi seragam tim. Bahkan saya tidak membawa makanan seperti rendang ke sana. Tapi, saya juga berangkat dengan banyak harapan. Mudah-mudahan tim lebih banyak menang, tampil lebih baik.
Mudah-mudahan pula saya lebih banyak mencetak gol sekaligus bisa menarik minat klub di sana. Siapa tahu bisa dilirik oleh scout dari salah satu klub Eropa.
Entah apa yang akan menanti tim di sana. Mungkin ada perubahan. Biasanya kami bermain dengan formasi 4-4-1-1. Saya di posisi penyerang lubang, di belakang penyerang tengah Alan Martha. Ada beberapa pemain yang bisa kami andalkan, seperti Martha sendiri, kapten tim Reffa Money -- pemain belakang yang tangguh, dan ada juga Yandi Sofyan -- adik striker Persib Bandung Zaenal Arif, mungkin pembaca sudah tahu semua. Tapi, yang pasti, begitu sampai Montevideo, tim masih harus berlatih keras untuk mencapai semua yang diinginkan.
Seluruh anggota tim sudah siap, anak-anak terlihat optimis karena kita punya misi penting tahun ini, yaitu mengikuti Pra Piala Asia U-19 di Indonesia. Insya Allah di waktu singkat ini kita dapat mempersiapkan diri secara maksimal.
Kondisi pemain sangat baik. Saya sering melakukan kontak dengan semuanya, terutama tujuh teman yang tercoret. Sekaligus saya kasih support ke mereka, bahwa tercoret dari tim bukanlah akhir dari segalanya.
Saya sangat semangat untuk menimba ilmu kembali di Uruguay, karena saya belum merasa apa-apa. Bekal dari rumah mungkin hanya doa dari orangtua. Menurut saya itu yang terpenting dari apapun.
Tim saya sangat luar biasa, anak-anak bisa saling mengisi kekurangan teman. Mudah-mudahan rakyat Indonesia percaya pada tim kami. Mudah-mudahan dengan kepercayaan itu kami bisa berikan yang terbaik.
Di antara komentar pembaca pada edisi sebelumnya, ada tanggapan dari yang namanya Romy Bareno - orang yang sangat dekat dengan saya, dia kakak sepupu saya. Mengenai emosi saya, itu sangat benar dan saya sedang belajar melawan diri sendiri karena itu yang tersusah dalam hidup menurut saya. Mudah-mudahan seiring umur yang bertambah, saya bisa lebih dewasa dan mengurangi emosi saya.
Selama di Uruguay, saya akan terus memberi kabar kepada pembaca GOAL.com Indonesia. Tapi harap sabar yah...karena saya akan sibuk berlatih.
Mohon doa semua pembaca untuk tim S.A.D. Indonesia, karena kami akan bertarung di dua kompetisi dalam waktu dekat ini.
Salam hangat,
Syamsir Alam
TARUNA INDONESIA: Cerita Syamsir Alam - Pasti Semua Pemain Bermimpi Main Di Eropa
Inilah edisi kedua berupa kenang-kenangan Syamsir Alam selama merumput di Uruguay. Striker S.A.D. Indonesia U-17 itu memiliki impian realistis untuk bermain di Eropa suatu saat nanti.
12 Jan 2009 19:54:10
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas tanggapan yang telah disampaikan teman-teman pada tulisan saya yang pertama beberapa hari yang lalu. Setelah membaca komentar dari teman-teman, saya lebih tertantang dan siap maju berkembang jadi lebih baik. Insya Allah, dengan semangat dan kedua kaki, saya bisa mewujudkan mimpi kita semua yang sangat haus melihat salah satu anak bangsa bermain di Eropa.
Saya akan berupaya semampu mungkin bisa bermain di salah satu liga Eropa dan tidak bermain di liga Indonesia. Bukan sombong, tapi kita bicara realistis, pasti mimpi semua pemain sepakbola untuk bisa bermain di Eropa.
Pembaca GOAL.com, tak terasa sudah sebulan saya berada di rumah lagi. Sebelum pulang, pelatih Cesar Payovich sudah mengagendakan program latihan individual kepada masing-masing pemain. Programnya berbeda-beda karena tergantung dari kebutuhan pemain yang bersangkutan. Tapi semua programnya berisi latihan fisik, kami dilarang bermain sepakbola dulu selama di Indonesia. Tidak berarti juga saya dapat liburan seenak hati, karena saya tetap harus menjaga kebugaran fisik.
Beberapa menu program yang saya dapatkan seperti berenang, bersepeda, dan bermain bola voli, selain kegiatan latihan fisik lainnya. Tapi, agak susah mencari lapangan bola voli dekat rumah saya, sehingga saya memilih menggantinya dengan berenang. Kebugaran fisik memang saya perlukan agar segera siap begitu kembali ke Uruguay.
Nah, sedikit cerita soal Quinta Division, tim terkuat di sana adalah Danubio, karena sepuluh dari 11 pemainnya bermain untuk timnas Uruguay U-18. Saya juga punya kenangan baik dan buruk selama di sana.
Kenangan bagusnya, saya tak bisa melupakan saat mencetak gol ke gawang Fenix. Terjadinya secara ajaib dan Allah berikan itu tepat di hari ulang tahun saya [6 Juli]. Lebih spesial lagi, itu adalah gol tunggal dan Indonesia sukses mengalahkan Fenix, yang merupakan salah satu tim besar Uruguay.
Tapi kenangan buruknya, di Uruguay pula saya mendapat kartu merah pertama sejak menjadi pemain. Usai dikartumerah, pelatih Cesar menghampiri saya sambil menghardik, "Kasar begitu lebih baik pulang saja ke Indonesia!"
Saya menjawabnya karena kalau tidak saya halangi, pemain itu akan lolos ke pertahanan tim. Tapi, Cesar mengatakan saya tidak perlu melakukan hal itu karena biarkan itu menjadi tugas. Masing-masing pemain sudah punya tanggungjawabnya. Itulah hebatnya Cesar bagi tim, beliau sudah tak ubahnya seperti seorang ayah bagi kami.
Saya sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya kartu merah itu lagi, karena itu membawa kerugian baik bagi saya maupun kepada tim. Tapi, karena peristiwa itu menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah saya, usai pertandingan saya meminta kartu merah itu kepada wasit dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan sekaligus pengingat untuk tidak mengoleksinya lagi. Memang, saya bisa emosi, tapi mudah-mudahan lain kali bisa diredam.
Sampai ketemu di edisi berikutnya...
Salam hormat,
Syamsir Alam
12 Jan 2009 19:54:10
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas tanggapan yang telah disampaikan teman-teman pada tulisan saya yang pertama beberapa hari yang lalu. Setelah membaca komentar dari teman-teman, saya lebih tertantang dan siap maju berkembang jadi lebih baik. Insya Allah, dengan semangat dan kedua kaki, saya bisa mewujudkan mimpi kita semua yang sangat haus melihat salah satu anak bangsa bermain di Eropa.
Saya akan berupaya semampu mungkin bisa bermain di salah satu liga Eropa dan tidak bermain di liga Indonesia. Bukan sombong, tapi kita bicara realistis, pasti mimpi semua pemain sepakbola untuk bisa bermain di Eropa.
Pembaca GOAL.com, tak terasa sudah sebulan saya berada di rumah lagi. Sebelum pulang, pelatih Cesar Payovich sudah mengagendakan program latihan individual kepada masing-masing pemain. Programnya berbeda-beda karena tergantung dari kebutuhan pemain yang bersangkutan. Tapi semua programnya berisi latihan fisik, kami dilarang bermain sepakbola dulu selama di Indonesia. Tidak berarti juga saya dapat liburan seenak hati, karena saya tetap harus menjaga kebugaran fisik.
Beberapa menu program yang saya dapatkan seperti berenang, bersepeda, dan bermain bola voli, selain kegiatan latihan fisik lainnya. Tapi, agak susah mencari lapangan bola voli dekat rumah saya, sehingga saya memilih menggantinya dengan berenang. Kebugaran fisik memang saya perlukan agar segera siap begitu kembali ke Uruguay.
Nah, sedikit cerita soal Quinta Division, tim terkuat di sana adalah Danubio, karena sepuluh dari 11 pemainnya bermain untuk timnas Uruguay U-18. Saya juga punya kenangan baik dan buruk selama di sana.
Kenangan bagusnya, saya tak bisa melupakan saat mencetak gol ke gawang Fenix. Terjadinya secara ajaib dan Allah berikan itu tepat di hari ulang tahun saya [6 Juli]. Lebih spesial lagi, itu adalah gol tunggal dan Indonesia sukses mengalahkan Fenix, yang merupakan salah satu tim besar Uruguay.
Tapi kenangan buruknya, di Uruguay pula saya mendapat kartu merah pertama sejak menjadi pemain. Usai dikartumerah, pelatih Cesar menghampiri saya sambil menghardik, "Kasar begitu lebih baik pulang saja ke Indonesia!"
Saya menjawabnya karena kalau tidak saya halangi, pemain itu akan lolos ke pertahanan tim. Tapi, Cesar mengatakan saya tidak perlu melakukan hal itu karena biarkan itu menjadi tugas. Masing-masing pemain sudah punya tanggungjawabnya. Itulah hebatnya Cesar bagi tim, beliau sudah tak ubahnya seperti seorang ayah bagi kami.
Saya sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya kartu merah itu lagi, karena itu membawa kerugian baik bagi saya maupun kepada tim. Tapi, karena peristiwa itu menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah saya, usai pertandingan saya meminta kartu merah itu kepada wasit dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan sekaligus pengingat untuk tidak mengoleksinya lagi. Memang, saya bisa emosi, tapi mudah-mudahan lain kali bisa diredam.
Sampai ketemu di edisi berikutnya...
Salam hormat,
Syamsir Alam
TARUNA INDONESIA: Cerita Syamsir Alam - Si Bolang Pulang Ke Indonesia
Kegagalan menembus skuad junior Vitesse Arnhem dan Heerenveen di Belanda tidak membuat Syamsir Alam menyerah. Selanjutnya, ia menjadi tulang punggung timnas U-17.
30 Des 2008 09:25:28
PENGANTAR REDAKSI:
Kegagalan demi kegagalan yang dipetik tim nasional senior Indonesia, mungkin membuat kita bertanya-tanya, apakah kita harus mengalihkan harapan terhadap pemain-pemain muda Indonesia? Saat ini, eks timnas U-16 Indonesia sedang belajar ke Montevideo, untuk program pembinaan dan peningkatan fisik pemain di bawah asuhan pelatih Cesar Payovich Perez asal Uruguay.
Mereka diberi nama S.A.D. Indonesia (singkatan dari Sociedad AnĂ³nima Deportiva), dan berlaga dalam Quinta Division, tepatnya di Liga U-17 Uruguay. Bintangnya adalah Syamsir Alam, striker yang sudah mengemas 15 gol dari 29 laga yang dilakoninya selama dua putaran Liga U-17 Uruguay. Wajar saja jika anak pertama dari pasangan Edinas Sikumbang dan Yuliana Hotnida ini disebut sebagai tulang punggung timnas U-17, sekaligus masa depan sepakbola nasional.
Alam menyimpan banyak cerita dari Montevideo. Pemain kelahiran 6 Juli 1992 itu untuk sementara ini pulang ke rumahnya di Bintaro, Tangerang, dan kian tak sabar untuk merumput lagi. Berikut ini oleh-oleh Uruguay yang pertama dari Alam, eksklusif untuk pembaca GOAL.com Indonesia.
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Salam jumpa.
Sudah sebulan ini saya kembali di Jakarta, setelah hampir
setahun lamanya latihan dan ikut kompetisi di Uruguay. Senang bisa melepas rasa homesick yang sudah kami rasakan sejak pertengahan tahun di Montevideo. Sedihnya saya tidak bisa lagi bertemu Om Ronny Pattinasarani yang meninggal dunia. Terakhir di Surabaya sebelum berangkat ke Montevideo, saya pernah berpesan agar Om Ronny mengurangi minum kopi dan rokoknya, tapi kena juga. Begitu juga dengan Om Iswadi Idris yang dulu melepas kami. Sambil menangis beliau waktu itu meminta kami mendoakan Om Ronny yang pergi berobat ke Cina, ternyata malah Om Is yang wafat duluan. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat mereka...
Selama di Uruguay, tak banyak kendala yang kami rasakan. Mungkin soal bahasa, plus nasi mereka yang lembek banget seperti bubur. Beda dengan timnas Primavera atau Baretti dulu, tim yang dikirim sekarang bertujuan mencetak pemain. Uruguay juga bukan tujuan yang buruk. Diam-diam banyak scout Eropa yang datang menonton pertandingan Quinta Division, nama kompetisi tempat kami bertanding. Jati diri mereka sulit diketahui. Tidak ada pakaian mentereng, mereka ngegembel saja...
Proses perekrutan pemain berbakat juga tidak berbelit-belit. Ada satu orang bek yang pernah menjaga saya, seminggu kemudian dia sudah terbang ke Chelsea...
Di Uruguay, banyak hal baru yang dapat dipelajari tentang sepakbola. Kita tidak kalah jauh dari mereka, tapi soal mental dan kemauan mereka sangat jauh lebih dari kita.
Saya mulai terbiasa jauh dari keluarga. Maklum, bisa dibilang saya "bolang" -- bocah petualang. Tapi, itu ujian untuk saya agar meraih sukses dan saya harus bisa melewati semua itu. Terima kasih khusus kepada keluarga buat segala dukungannya. Walaupun saya belum menjadi apa-apa, tapi saya percaya akan membuat kalian bangga. Terutama Papa dan Mama yang saya yakin tidak berhenti berdoa untuk anaknya. Terima kasih juga buat om di Depok dan Uning atas dukungan dan doanya. Insya Allah saya menepati janji untuk main di Eropa.
Saya sangat menyesal gagal memikat dan menembus tim salah satu negara raksasa sepakbola tersebut [Vitesse Arnhem dan Heerenveen junior di Belanda]. Tapi kalau harus terlena dengan penyesalan, saya takkan maju. Mungkin memang saya masih kurang ilmu dan harus lebih banyak belajar agar bisa bermain di kancah internasional.
Dan, yang pasti saya tak sabar ingin segera kembali ke Uruguay...
Terima kasih dan sampai jumpa lagi di edisi berikutnya.
Salam,
*Syamsir Alam
30 Des 2008 09:25:28
PENGANTAR REDAKSI:
Kegagalan demi kegagalan yang dipetik tim nasional senior Indonesia, mungkin membuat kita bertanya-tanya, apakah kita harus mengalihkan harapan terhadap pemain-pemain muda Indonesia? Saat ini, eks timnas U-16 Indonesia sedang belajar ke Montevideo, untuk program pembinaan dan peningkatan fisik pemain di bawah asuhan pelatih Cesar Payovich Perez asal Uruguay.
Mereka diberi nama S.A.D. Indonesia (singkatan dari Sociedad AnĂ³nima Deportiva), dan berlaga dalam Quinta Division, tepatnya di Liga U-17 Uruguay. Bintangnya adalah Syamsir Alam, striker yang sudah mengemas 15 gol dari 29 laga yang dilakoninya selama dua putaran Liga U-17 Uruguay. Wajar saja jika anak pertama dari pasangan Edinas Sikumbang dan Yuliana Hotnida ini disebut sebagai tulang punggung timnas U-17, sekaligus masa depan sepakbola nasional.
Alam menyimpan banyak cerita dari Montevideo. Pemain kelahiran 6 Juli 1992 itu untuk sementara ini pulang ke rumahnya di Bintaro, Tangerang, dan kian tak sabar untuk merumput lagi. Berikut ini oleh-oleh Uruguay yang pertama dari Alam, eksklusif untuk pembaca GOAL.com Indonesia.
Dear pembaca GOAL.com Indonesia,
Salam jumpa.
Sudah sebulan ini saya kembali di Jakarta, setelah hampir
setahun lamanya latihan dan ikut kompetisi di Uruguay. Senang bisa melepas rasa homesick yang sudah kami rasakan sejak pertengahan tahun di Montevideo. Sedihnya saya tidak bisa lagi bertemu Om Ronny Pattinasarani yang meninggal dunia. Terakhir di Surabaya sebelum berangkat ke Montevideo, saya pernah berpesan agar Om Ronny mengurangi minum kopi dan rokoknya, tapi kena juga. Begitu juga dengan Om Iswadi Idris yang dulu melepas kami. Sambil menangis beliau waktu itu meminta kami mendoakan Om Ronny yang pergi berobat ke Cina, ternyata malah Om Is yang wafat duluan. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat mereka...
Selama di Uruguay, tak banyak kendala yang kami rasakan. Mungkin soal bahasa, plus nasi mereka yang lembek banget seperti bubur. Beda dengan timnas Primavera atau Baretti dulu, tim yang dikirim sekarang bertujuan mencetak pemain. Uruguay juga bukan tujuan yang buruk. Diam-diam banyak scout Eropa yang datang menonton pertandingan Quinta Division, nama kompetisi tempat kami bertanding. Jati diri mereka sulit diketahui. Tidak ada pakaian mentereng, mereka ngegembel saja...
Proses perekrutan pemain berbakat juga tidak berbelit-belit. Ada satu orang bek yang pernah menjaga saya, seminggu kemudian dia sudah terbang ke Chelsea...
Di Uruguay, banyak hal baru yang dapat dipelajari tentang sepakbola. Kita tidak kalah jauh dari mereka, tapi soal mental dan kemauan mereka sangat jauh lebih dari kita.
Saya mulai terbiasa jauh dari keluarga. Maklum, bisa dibilang saya "bolang" -- bocah petualang. Tapi, itu ujian untuk saya agar meraih sukses dan saya harus bisa melewati semua itu. Terima kasih khusus kepada keluarga buat segala dukungannya. Walaupun saya belum menjadi apa-apa, tapi saya percaya akan membuat kalian bangga. Terutama Papa dan Mama yang saya yakin tidak berhenti berdoa untuk anaknya. Terima kasih juga buat om di Depok dan Uning atas dukungan dan doanya. Insya Allah saya menepati janji untuk main di Eropa.
Saya sangat menyesal gagal memikat dan menembus tim salah satu negara raksasa sepakbola tersebut [Vitesse Arnhem dan Heerenveen junior di Belanda]. Tapi kalau harus terlena dengan penyesalan, saya takkan maju. Mungkin memang saya masih kurang ilmu dan harus lebih banyak belajar agar bisa bermain di kancah internasional.
Dan, yang pasti saya tak sabar ingin segera kembali ke Uruguay...
Terima kasih dan sampai jumpa lagi di edisi berikutnya.
Salam,
*Syamsir Alam
Subscribe to:
Posts (Atom)