Waarschuwing!!!

Blog ini tidak diperuntukkan kepada:

1. Yang tidak/belum bisa membaca

2. Yang tidak suka sama isinya atau backgroundnya

3. Yang tidak memiliki nyali untuk membuka blog ini



Jika Anda ingin membaca blog ini, persiapkan mental Anda, serta harus kuat rohani dan jasmani.

Monday, December 31, 2012

Untuk Anda, Entah Siapa Anda


Setiap orang pasti punya keluarga. Gak mungkin ada orang yang sendiri. Setiap orang pasti punya ibu dan ayah. Walaupun ibu dan ayah kalian sudah tiada.

Memang ibu kalian yang melahirkan. Tapi kalian gak bakal lahir kalo gak ada seorang ayah. Karena tanpa ayah, ibu tidak akan melahirkan. Kecuali Maryam yang melahirkan seorang Nabi Isa A.S. atau Nabi Adam A.S. dan istrinya Hawa yang dibuat dari tanah.

Tidak mungkin seorang anak tidak punya ayah. Mungkin ada, tapi anak itu adalah anak yang tidak mengetahui siapa ayahnya.

Kalian pasti tidak pernah ingin orang tua kalian, baik ayah atau ibu kalian disakiti orang lain, walaupun hanya sebatas candaan biasa. Tapi apa yang terjadi jika salah satu dari mereka, baik ayah atau ibu kalian disakiti oleh orang yang tak pernah diinginkan?

Sedih?

Marah?

Geram?

Murka?

Sakit hati?

Pasti itu yang kalian rasakan. Jika tidak, saya yakin, otak dan hati Anda sudah mengeras.

Setidaknya itulah yang sedang saya alami, seorang anak yang berusaha memberikan yang terbaik kepada orang tuanya sampai merantau ke tempat orang yang tidak pernah dikunjungi sebelumnya demi orang tua. Di penutup tahun ini kabar menyakitkan itu ternyata sampai juga di telinga saya. Ternyata selama ini yang membuat ayah saya menderita adalah ANDA.

Sedih? Ya! Marah? Tentu saja! Geram? Pasti! Murka? Sangat! Sakit hati? Natuurlijk!!!

Bagaimana saya tidak mengalami kelima kata diatas kalau tidak ada sebabnya. Ya! Itu karena Anda! Anda, yang telah membuat ayah saya menderita akhir-akhir ini. Bukan ayah saya saja yang notabene mengalami secara langsung, tapi juga ibu saya, yang sibuk mengurusi ayah walaupun tidurnya hanya sebentar dan tentu saja sangat lelah. Selain itu juga adik saya yang ikut membantu ibu. Dan tentu saja saya, yang terpaksa tidak bisa melihat langsung ayah karena saya sedang menuntut ilmu di luar kota. Bukan kami bertiga saja, orang lain juga ikut panik dan sedih dengan keadaan ayah saya waktu itu. Tapi yang paling parah adalah kami, keluarganya.

Mungkin saya terlihat egois, tidak mau melihat keadaan, hanya menanggapi dengan seenaknya keadaan ayah saya. Yah, itu hanya tampak luar. Tapi sebenarnya saya panik, saya takut, dan tentu saja, saya sedih mengetahui keadaan ayah saya seperti itu, walaupun saya hanya tahu keadaannya lewat sambungan 2 arah saja. Mimpi buruk tentang ayah sering menghantui saya. Bahkan saya sempat bermimpi yang paling buruk dan paling tidak diinginkan oleh semua orang, ditinggalkan oleh orang yang dicintai. That’s nightmare!

Sakit dan terus sakit. Sebulan ini tanda tanya memenuhi otak saya? Sebenarnya ayah sakit apa? Terus saja pikiran negatif menghantui saya. Tetapi pikiran negatif itu cepat hilang karena lingkungan disini mendukung saya untuk berpikiran positif. Tentu saja yang saya takutkan, kejadian yang persis menimpa kakak ayah saya beberapa bulan yang lalu.

Tapi alhamdulillah. Akhirnya ayah saya pun sembuh. Musnah sudah pikiran buruk saya. Saya bisa bertemu ayah saya nanti saat liburan, semoga Allah mengizinkan. Tapi tetap saja pertanyaan tentang penyakit ayah itu belum terjawab. Saya terus bertanya ibu, tapi dia hanya menjawab, “Sudah, Na. Berdoa aja semoga pa’e sehat.” Dan tentu saja, hal itu yang membuat saya semakin bertanya-tanya.

Dan pertanyaan saya pun terjawab. Hari ini.

Sedikit kaget tetapi tidak terlalu kaget. Karena jawaban itu ternyata sempat terbesit di dalam pikiran saya.
Kaget? Tentu saja! Exactly! Natuurlijk!

Bagaimana bisa? Apa salah ayah saya? Siapa Anda? Apa yang Anda inginkan dari ayah saya!? Harta? Kebahagiaan? Jabatan? Apa salah ayah saya!? Apa ayah saya pernah menyakiti Anda!?

Yang saya tahu, ayah adalah orang yang cuek. Tidak pernah peduli situasi yang buruk. Pasti akan segera ia lupakan sesuatu yang buruk itu. Dan ayah saya tidak pernah peduli dengan orang yang tidak menyukainya.
Kalau ayah saya pernah menyakiti Anda atau Anda tidak menyukai ayah saya, bersikaplah layaknya manusia sejati. Gentle! Bicara di depan wajah ayah saya. Jangan beraninya main belakang. Apalagi kalau caranya seperti ini. Bencong lo! Banci! Dan cara Anda ini bukanlah sebuah lelucon pada April Mop, paham!? Ini masalah serius. Ini bisa menjadi kejahatan dunia, juga akhirat.

Mungkin Anda tertawa setelah Anda berhasil ‘mengerjai’ ayah saya. Tapi tawa Anda tidak sebanding dengan kesedihan yang saya alami, dan orang lain yang mengenal ayah kami dengan baik.

Oke mungkin orang menilai bahwa saya juga banci, karena saya hanya berbicara melalui ketikan saya disini. Tapi itu bukan karena saya banci, itu karena saya tidak tahu siapa Anda sebenarnya. Orang seperti apa Anda. Saya tidak tahu apakah Anda itu pria, wanita, belum menikah, sudah punya anak, janda, duda, atau masih muda, mungkin juga Anda sudah meninggal. Entahlah. Hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang tahu. Mungkin saya juga tahu, tapi suatu saat nanti.

Saya marah kepada Anda? Pasti! Mungkin sampai kapanpun saya akan marah kepada Anda karena Anda beraninya bermain dengan nyawa ayah saya. Tapi bernapas dengan legalah Anda karena saya tidak tahu siapa Anda sebenarnya. Yang saya tahu dari Anda adalah Anda adalah orang yang paling berengsek yang pernah saya tahu.

Tapi apa daya, tidak baik manusia memiliki dendam. Saya hanya berdoa yang terbaik untuk Anda. Semoga Anda cepat bertobat. Atau kalau perlu minta maaf kepada ayah saya. Karena Anda tahu? Karma sama dengan Hukum Newton III, dimana aksi sama dengan reaksi. Anda melakukan, pasti Anda dapat konsekuensinya.

Tertawalah sekarang sepuas Anda. Tapi nantinya kamilah yang menertawai Anda.

Hah persetanlah. Yang penting ayah saya sudah sembuh sekarang. For revenge? I’ll think about it later.

No comments:

Post a Comment