Waarschuwing!!!

Blog ini tidak diperuntukkan kepada:

1. Yang tidak/belum bisa membaca

2. Yang tidak suka sama isinya atau backgroundnya

3. Yang tidak memiliki nyali untuk membuka blog ini



Jika Anda ingin membaca blog ini, persiapkan mental Anda, serta harus kuat rohani dan jasmani.

Thursday, August 12, 2010

Sejarah Eropa

Abad Pertengahan adalah periode sejarah di Eropa sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat di bawah prakarsa raja Charlemagne pada abad 5 hingga munculnya monarkhi-monarkhi nasional, dimulainya penjelajahan samudra, kebangkitan humanisme, serta Reformasi Protestan dengan dimulainya renaisans pada tahun 1517.

Abad Pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di masa zaman klasik dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan.

Eropa dilanda Zaman Kelam(Dark Ages) sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Maksud “Zaman Kelam” ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelek dan kelembapan ilmu pengetahuan. Menurut Ensikopedia Amerikana, tempoh zaman ini selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Rom dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masihi. “Gelap” juga bermaksud tiada prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud tindakan dan cengkraman kuat pihak berkuasa agama; Gereja Kristian yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja sahaja yang berkelayakan untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains berasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka ditolak. siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera malah ada yang dibunuh.

Pikiran ini, terimplementasi melalui teori yang dikeluarkan oleh Thomas Aquinas (m 1274) seorang ahli falfasah yakni “negara wajib tunduk kepada kehendak gereja”. St Augustine (m 430) sebelumnya juga berpendirian demikian. Manakala Dante Alighieri (1265-1321) berpendapat kedua-dua kuasa itu hendaklah masing-masing berdiri sendiri, dan mestilah bekerjasama untuk mewujudkan kebajikan bagi manusia (Joseph H Lynch, 1992, 172-174).

Dalam paradigma abad pertengahan, dua wilayah agama dan dunia terpisah total satu dengan yang lain sehingga tidak ada peluang bagi ekspansi satu terhadap yang lain atau pembauran antar keduanya. Seorang manusia kalau tidak ‘melangit’ haruslah ‘membumi’, atau kalau tidak meyakini kekuasaan alam gaib terhadap segala urusan hidupnya, maka dia harus memutuskan hubungan secara total dengan Tuhan dan roh-roh kudus, dan jika dia menghargai jasmani dan urusan materinya maka dia bukan lagi seorang rohaniwan dan berarti telah memutuskan hubungan dengan Tuhan. Kata Augustine “siapapun yang mahir dalam kesenian, perang, dan filsafat adalah orang yang bejat dan sesat, karena dia berasal dari kota setan dimana kebahagiaannya tak lebih dari sekadar topeng yang menipu, dan keindahannya hanya merupakan wajah alam kubur”. Kota inilah yang tidak diterima oleh Tuhan dan fitrah manusia. Karena orang yang sombong dan angkuh adalah merupakan kepekatan hari dan orang yang memiliki pengetahuan tentang segala yang harus diketahui oleh orang-orang terpuji. Dan ketika melihat kota setan ini tenggelam ke dalam kesesatan dan kesombongannya, maka semua sudut kegelapannya akan terlihat.

Konsep diatas, dipertegas oleh Fritjof Capra (2004) yakni : “Para ilmuwan pada Abat Pertengahan, yang mencari-cari tujuan dasar yang mendasari berbagai fenomena, menganggap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan, roh manusia, dan etika, sebagai pertanyaan-pertanyaan yang memiliki signifikansi tinggi, jadi ilmu didasarkan atas penalaran keimanan”.

Dengan demikian, kerangka berpikir yang dominan pada abad pertengahan dan tekanan kuat para elit gereja yang menganggap dirinya pengawas tatanan yang menguasai dunia dan telah menginterogasi ideologi para ilmuan dan menyeret mereka ke pengadilan serta menganggap kegiatan ilmiah sebagai campurtangan setan, kemudian faktor-faktor lain yang berada di luar pembahasan ini telah menjadi latar belakang munculnya Renaisans yang telah melahirkan teriakan protes terhadap kondisi yang dominan pada abad pertengahan.

Abad Pertengahan berakhir pada abad ke-15 dan kemudian disusul dengan zaman Renaissance. Zaman Renaissance berlangsung pada akhir abad ke-15 dan 16. Kesenian, sastra musik berkembang dengan pesat. Ada suatu kegairahan baru, suatu pencerahan. Ilmu pengetahuan mulai dikembangkan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1643), dll.

Secara etimologi Renaissance berasal dari bahasa Latin yaitu kata Re berarti kembali dan naitre berarti lahir. Secara bebas kata Renaissance dapat diartikan sebagai masa peralihan antara abad pertengahan ke abad modern yang ditandai dengan lahirnya berbagai kreasi baru yang diilhami oleh kebudayaan Eropa Klasik (Yunani dan Romawi) yang lebih bersifat duniawi.

Orang Eropa dari akhir Abad ke 15 hingga akhir abad ke 18, menganggap abad pertengahan sebagai zaman kegelapan. Bagi mereka Gotis sama dengan biadab. Melihat pandangan ini, jelas bagi kita, bahwa antara abad pertengahan dan abad-abad sesudah itu, terdapat perbedaan basar dalam sejarah perkembangan Eropa, perbedaan mengenai pandangan hidup, perbedaan dalam apa yang kita sebut ”pola kebudayaan”. Mereka dari zaman tadi yang sadar benar akan terputusnya tali hubungan dengan zaman kuno itu, menyebut pembaharuan yang terjadi di Eropa itu, dengan istilah Renaissance (kelahiran kembali atau lahir kembali). Terlihat dengan jelas yakni semangat inkuiri yang dimiliki oleh masyarakat Eropa.

Maksudnya; lahirnya kembali kebudayaan kuno itu. Menurut pandangan mereka, dalam abad pertengahan, jadi sesudah jatuhnya kerajaan Romawi Barat itu, Eropa jatuh kedalam jurang kebiadaban. Renaissance mereka anggap sebagai suatu peristiwa, yang terjadi dengan tiba-tiba. Hal itu mereka hubungkan dengan suatu kejadian, yakni jatuhnya Konstantinopel ketangan Bangsa Turki tahun 1453, yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Romawi Timur. Peristiwa ini mengakibatkan sebagian sarjana melarikan diri ke barat dan mendapat perlindungan di kota Florence. Tradisi mempelajari zaman kuno dan naskah-naskah yang dibawah para sarjana itu merupakan dasar pembaharuan kebudayaan barat itu.

Menurut pendapat para ahli sejarah, Renaissance awalnya dimulai di Italia. Hal ini disebabkan narena setelah runtuhnya Romawi Barat tahun 476M, Italia mengalami kemunduran, kota-kota pelabuhan menjadi sepi. Selama abad 8-11 perdagangan di laut Tengah dikuasai oleh pedagang muslim. Sejak berlangsung perang salib (abad 11-13) pelabuhan-pelabuhan di Italia menjadi ramai kembali untuk pemberangkatan pasukan perang salib ke Palestina. Setelah perang salib berakhir pelabuhan-pelabuhan tersebut berubah menjadi kota dagang yang berhubungan kembali dengan dunia timur. Muncullah Republik dagang di Italia seperti Genoa, Florence, Venesia, Pisa di Milano. Kota-kota ini dikuasai oleh para pengusaha serta pemilik modal yang kaya raya disebut golongan borjuis antara lain keluarga Medicci dari Florence. Mereka mendorong terjadinya pendobrakan terhadap polapola tradisional dari abad pertengahan.
Renaissance dapat berkembang akibat pengaruh dari kaum borjuis juga karena peranan golongan Humanisme.

Siapakan kaum humanis itu? Mereka merupakan kelompok orang yang mengabdikan hidupnya untuk mempelajari dan mendalami buku-buku karya Pusataka Klasik antara lain buah pikiran Sokrates, Plato dan para filsuf Yunani yang lain. Kaum Humanis terdiri dari sastrawan, seniman, ahli agama/teologi., guru kaum borjuis, orator (ahli pidato) dan sebagainya.

Sikap hidup kaum Humanis antara lain :

1. Kritis dan tidak mudah percaya tanpa bukti nyata (skeptis)
2. Menentang terhadap tradisi lama
3. Sekularisme (sikap mengutamakan keduniawian dan hidup di dunia ini). Hal ini dikenal melalui pandangan hidupnya berbunyai “Carpe Diem” (nikmatilah hidup) yang bertolak belakang dengan pandangan hidup pada abad pertengahan yaitu “ momento mori” (ingatlah hari sesudah mati).
4. Record breaker, memecahkan rekor menghasil karya-karya yang terkenal

Siapakah tokoh-tokoh Renaissance dan Humanisem?

Para Seniman dari Italia yaitu

1. Leonardo da Vinci (1452-1519)

Leonardo da Vinci (15 April 1452 – 2 Mei 1519) adalah arsitek, musisi, pencipta, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe “manusia Renaisans” dan sebagai jenius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya. Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil.

2. Michelangelo Buonarroti (1475-1564).

Patung Pietà (1498-1499) adalah sebuah patung marmer karya Michelangelo yang terletak di basilika Santo Petrus di Roma, Italia yang merupakan karya pertama dari sekian banyak karya dengan tema yang sama oleh Michelangelo. Patung tersebut dibuat sebagai monumen di makam kardinal Perancis Jean de Billheres, tetapi kemudian dipindahkan ke lokasinya yang sekarang, kapel pertama di kanan basilika pada abad ke-18. Karya ini menggambarkan tubuh Yesus di pelukan ibunya Maria setelah penyaliban Yesus.

Dari Belanda antara lain:

1. Desiderwis Erasmus (1469-1536)
Seorang penulis yang mengikuti jejak Sokrates. Desiderius Erasmus Roterodamus (atau Desiderius Erasmus dari Rotterdam) (Gouda, 27 Oktober 1466–Basel, Swiss, 12 Juli 1536) adalah seorang filsuf, humanis dan ahli teologi Belanda. Ia lahir sebagai Geert Geertsen di Gouda (dekat Rotterdam), Belanda. Nama pertamanya Geert secara salah dikira merupakan derivasi dari kata begeren (menginginkan) dan lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dan Bahasa Yunani menjadi Desiderius Erasmus.
Semasa hidupnya Erasmus bekerja sebagai seorang pastor. Karyanya yang terpenting antara lain adalah edisi teks Alkitab dalam bahasa Yunani dan bahasa Latin. Erasmus juga banyak mengkritik Gereja dan ia lebih menekankan manusia daripada Tuhan. Erasmus semasa hidupnya sering berpolemik dengan Martin Luther.
Daftar karya filsafatnya:
1) De libero arbitrio diatribe sive collatio (1524), analisanya mengenai takdir dan kebebasan bertindak
2) Praise of Folly (Bahasa Belanda: Lof der Zotheid), yang didekiasikan kepada sahabatnya, Sir Thomas More.
3) De puritate ecclesiae christianae (1536), rekonsiliasi antara banyak kaum yang berseteru di Geraja.
4) Institutio Principis Christiani (Basel, 1516), nasehat untuk Raja Charles dari Spanyol, yang kemudian menjadi Charles V, Kaisar Kerajaan Romawi Yang Suci.
5) Colloquia secara bertahap mulai 1500 dan seterusnya.
6) Apophthegmatum opus
7) Adagia

Dari Inggris :

1. Thomas More (1478-1535) karya sastranya berjudul “Utopia”

2. William Shakespeare 1546-1616.
William Shakespeare (dibaptis 26 April 1564 – 23 April menurut tarikh Kalender Julian atau 3 Mei 1616 menurut tarikh Kalender Gregorian) seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis tragedi dan komedi berkwalitas tinggi. Ia menulis antara tahun 1585 and 1613. Namun karyanya masih tetap dipelajari sampai sekarang oleh anak-anak sekolah di seluruh dunia. [sunting]

Karya sastranya antara lain: Julius Caesar, Hamlet, Macbeth, Romeo and Yuliet, Merchant of Venice.

Niccolo Machiavelli (1469-1527)

Filosof politik Italia, Niccolo Machiavelli, termasyhur karena nasihatnya yang blak-blakan bahwa seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan.

Machiavelli lahir tahun 1469 di Florence, Italia. Ayahnya, seorang ahli hukum, tergolong anggota famili terkemuka, tetapi tidak begitu berada. Selama masa hidup Machiavelli (pada saat puncak-puncaknya Renaissance Italia) Italia terbagi-bagi dalam negara-negara kecil, berbeda dengan negeri yang bersatu seperti Perancis, Spanyol atau Inggris. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa dalam masanya Italia lemah secara militer padahal brilian di segi kultur.
Di kala Machiavelli muda, Florence diperintah oleh penguasa Medici yang masyhur, Lorenzo yang terpuji. Tetapi Lorenzo meninggal dunia tahun 1492, dan beberapa tahun kemudian penguasa Medici diusir dari Florence; Florence menjadi republik (Republik Florentine) dan tahun 1498, Machiavelli yang berumur dua puluh sembilan tahun peroleh kedudukan tinggi di pemerintahan sipil Florence. Selama empat belas tahun sesudah itu dia mengabdi kepada Republik Florentine dan terlibat dalam pelbagai missi diplomatik atas namanya, melakukan perjalanan ke Perancis, Jerman, dan di dalam negeri Italia.

Tahun 1512, Republik Florentine digulingkan dan penguasa Medici kembali pegang tampuk kekuasaan, Machiavelli dipecat dari posisinya, dan di tahun berikutnya dia ditahan atas tuduhan terlibat dalam komplotan melawan penguasa Medici. Dia disiksa tetapi tetap bertahan menyatakan tidak bersalah dan akhirnya dibebaskan pada tahun itu juga. Sesudah itu dia pensiun dan berdiam di sebuah perkebunan kecil di San Casciano tidak jauh dari Florence.
Selama empat belas tahun sesudah itu, dia menulis beberapa buku, dua diantaranya yang paling masyhur adalah The Prince, (Sang Pangeran) ditulis tahun 1513, dan The Discourses upon the First Ten Books of Titus Livius (Pembicaraan terhadap sepuluh buku pertama Titus Livius). Diantara karya-karya lainnya adalah The art of war (seni berperang), A History of Florence (sejarah Florence) dan La Mandragola (suatu drama yang bagus, kadang-kadang masih dipanggungkan orang). Tetapi, karya pokoknya yang terkenal adalah The Prince (Sang Pangeran), mungkin yang paling brilian yang pernah ditulisnya dan memang paling mudah dibaca dari semua tulisan filosofis. Machiavelli kawin dan punya enam anak. Dia meninggal dunia tahun 1527 pada umur lima puluh delapan.

Berdirinya Kekaisaran Roma Suci menandai zaman dalam teori abad pertengahan, tetapi bukan dalam praktik. Abad pertengahan terutama kecenderungan dengan fiksi hukum, dan pada saat itu fiksi itu masih tetap ada sehingga propinsi-propinsi kawasan barat dari bekas kekaisaran Roma, secara de jure, masih tunduk pada kaisar di Konstantinopel, yang masih menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber otoritas hukum.

Charlemagne, ahli fiksi hukum, mengatakan bahwa tahta kekaisaran sedang kosong, karena Ratu Irene yang berkuasa di Timur ( yang menyebut dirinya kaisar laki-laki, bukan kaisar perempuan) adalah seorang perampas kekuasaan, kerana tidak ada perempuan yang bisa menjadi kaisar.

Charles mendasarkan legitimasinya dari paulus. Karena itu, untuk pertama kalinya, muncul kesalingtergantungan yang janggal antara paus dan kaisar. Tidak ada orang yang bisa menjadi kaisar kecuali dinobatkan oleh Paus di Roma; di lain pihak, untuk beberapa abad, setiap kaisar yang kuat mengklaim mempunyai hak untuk memilih dan memberhentikan paus.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment